BAGIAN KISAH NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM YANG TAK TERPIKIRKAN

Siapakah yang berani mengklaim bahwa dirinya lebih ikhlas daripada Nabi Ibrahim As? Siapakah yang berani mengklaim amal dirinya lebih besar dan lebih banyak daripada Nabi Ibrahim As?

Saya yakin tidak ada satupun manusia yang berani mengklaim dirinya lebih ikhlas daripada Nabi Ibrahim dan amalnya lebih banyak dan lebih besar daripada Ibrahim.


Bayangkan, Nabi Ibrahim lah yang membangun Ka'bah untuk pertama kalinya. Yang mana sejak awal berdirinya hingga sekarang milyaran manusia telah bersujud menghadapnya. Berapa triliyun pahala yang mengalir kepada Nabi Ibrahim sejak saat itu hingga detik ini?

Allahu Akbar! tidak terbayangkan betapa besarnya amal beliau dihadapan Allah.

Namun, ada yang menarik dari amal beliau ini.

Meskipun beliau adalah kekasih Allah yang sudah tidak diragukan lagi keihlasan ibadahnya,

Meskipun beliau sudah melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepadanya,

Setelah membangun pondasi ka'bah beliau masih hawatir jika amal beliau tidak diterima disisi Allah. Hingga akhirnya beliau berdoa,

......رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. 2: 127)

Kurang ikhlas apa lagi hati Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah? Kurang besar apa lagi amal membangun Ka'bah? Meskipun keihlasan beliau sudah tidak diragukan lagi. Meskipun kebesaran pahala amal tidak tertandingi lagi, beliau tetap berdoa agar amal beliau diterima disisi Allah... MasyaAllah...

Sekarang mari kita tengok pada diri kita sendiri.

Sudah seikhlas apa hati kita dalam melakukan amal di hadapan Allah?
Sudah sebesar apakah amalan yang kita persembahkan pada Allah?
Sudah seyakin apa amalan kita akan diterima diisi Allah?

Diakui atau tidak, selama ini kebanyakan orang masih terlalu fokus untuk menambah amal sehingga melewatkan satu hal penting dari amal itu sendiri. Yaitu DITERIMANYA AMAL di sisi Allah.

Apakah Anda selalu menghawatirkan hal itu?
Jangan keburu bangga jika kita bisa menunaikkan shalat malam disaat yang lain terlelap. Jangan keburu merasa paing mulia hanya karena kita bisa menunaikkan shalat dhuha disaat yang lain terlalai. Jangan keburu merasa paling baik hanya karena hafalan al-Qur'an kita lebih banyak dari yang lain.

Jangan keburu merasa suci hanya karena kita pernah dipanggil Allah ke tanah suci.

Sadarilah, bahwa tidak semua amal akan diterima disisi Allah..
Bagaimana agar amal bisa diterima disisi Allah?

Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Zaadul Ma'ad pernah menulis bahwa syarat diterimanya amal ada dua: pertama, Ikhlas. Kedua, benar dari sisi keilmuan.

Sekalipun shalatnya sudah benar, namun niatnya bukan karena Allah, maka amal itu sia-sia dihadapan Allah.
Sebaliknya, mesikpun niatnya ikhlas karena Allah, namun tata cara shalatnya tidak benar, maka tetap sia-sia dihadapan Allah.

Ibnu Qoyyim juga menyampaikan "Amal yang tidak ikhlas ibarat musafir yang membawa sekarung pasir. Memberatkan. Namun tidak memberi manfaat apa-apa baginya"

Begitupula dengan amal. Amal yang besar, sekaipun berat, jika tidak benar-benar diniatkan karena Allah, maka akan sia-sia.

Lalu bagaimana agar senantiasa menjaga keihlasan?

Imam Ghazali menyampaikan dalam kitab Ihya'nya, bahwa ciri orang yang ikhlas adalah orang yang selalu menghawatirkan amalannya. Dia sangat takut amalnya tidak diterima disisi Allah.

Sebaliknya, orang yang tidak ikhlas akan senantiasa membangga-banggakan amal yang telah dilakukannya. Na'udzubillah...

Itulah mengapa ketika Nabi Ibarahim selesai membangun pondasi ka'bah beliau tetap berdoa

......رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Hal ini semata-mata agar keihlasan hati beliau tetap terjaga dan berharap agar amal beliau diterima disisi Allah.

Sekelas beliau saja masih bisa hawatir amalnya tidak diterima disisi Allah.

Bagaimana dengan amal kita?

Semoga Allah menerima amal kita semua.

Saat ini saya pribadi sedang melatihnya. Setiap selesai menulis atau beramal yang lain, saya upayakan untuk berdoa sebagaimana Nabi Ibrahim berdoa.

Mudah-mudahan amal dari menulis ini benar-benar menjadi wasilah kebaikan bagi setiap hati manusia yang memahaminya. Dan semoga amal ini dicatat sebagai amal yang ikhlas dan diterima disisi Allah swt.

Keep Learning & Growing
Salam SUPER SEMANGAT!
A. S. Rizal | Santri Dahsyat